Bagi kamu yang belum/akan ke Aceh terutama ke Banda Aceh, mungkin kamu akan merasa takut dan menganggap Aceh itu menyeramkan dan sangat tertinggal.
Oleh karena itu, kamu wajib tau fakta yang ga kamu ketahui tentang Aceh nih guys. Apa saja faktanya? Check it out!
1. Jalanan akan sepi pada hari Jumat

Kalian tau ga kalau di Aceh, setiap shalat jumat, semua pertokoan dan semua aktivitas dihentikan mulai pukul 12.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Kalaupun ada yang ga menutup tokonya secara total, biasanya pemilik toko tersebut hanya membuka sedikit saja pintunya untuk orang-orang yang ingin membeli barang.
Rumah makan di sini (terutama pemiliknya yang non muslim) pada saat jam 12:00 hingga 14:00 WIB biasanya menutup pintu atau menutup restoran/rumah makannya dengan tirai agar ga kelihatan mencolok di saat sebagian warga di sini (yang mayoritasnya muslim) sedang shalat Jumat.
Kenapa begitu? karena selain dikarenakan masyarakatnya cukup beragam yang terdiri berbagai suku dan agama, maka ga bisa dipungkiri jika pada saat break atau jam istirahat ini dijadikan untuk mencari makan siang bagi masyarakat non muslim di Aceh.
Keuntungannya apa? karena jalanan sangat sepi maka biasanya banyak anak kecil yang berkeliling naik sepeda soalnya katanya serasa seperti jalan punya bapaknya sendiri. Kamu juga bisa tiduran di tengah jalan kalau mau. Eh tadi cuma bercanda ya guys😁
Nah, selain itu ada beberapa juga momen yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua untuk mengajarkan anaknya untuk belajar sepeda, motor ataupun mobil karena cenderung sepi dan aman.
2. Jalanan akan lebih redup pada saat azan Maghrib
Selain setiap hari Jumat siang semua toko tutup sejenak. Setiap hari saat azan maghrib pun semua toko yang ada di jalan besar biasanya meredupkan lampu di dalam dan luar tokonya agar ga terlihat terlalu mencolok.
Bagi yang muslim akan menjalankan shalat maghrib dan yang non-muslim ada yang hanya meredupkan lampu tokonya atau tutup toko secara total yang bisa digunakan untuk mandi, makan dan istirahat sejenak sebelum membuka tokonya kembali setelah waktu shalat maghrib telah selesai.
3. Pemberlakuan syariat Islam diberlakukan untuk semua umat Muslim
Syariat Islam mulai diberlakukan secara formal di Aceh pada tahun 2002, setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Aceh.
Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, diatur secara legal dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Aceh dan undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh. Kedua Undang-Undang ini menjadi dasar kuat bagi Aceh untuk menjalankan Syariat Islam di Aceh secara menyeluruh (Kaffah).
Syariat Islam yang dilaksanakan di Aceh meliputi bidang Aqidah, Syariah, dan Akhlak yaitu meliputi ibadah, ahwal al’syakhsiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah ( hukum pidana), qadha’ (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syiar, dan pembelaan Islam.
Ketentuan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh diatur dengan Qanun Aceh.
Bagaimana dengan non-Muslim? Apakah wajib menjalankan syariat Islam juga? Tentu saja tidak, karena syariat tersebut hanya diwajibkan untuk masyarakat Muslim saja. Untuk non muslim menyesuaikan dengan peraturan yang ada, misalkan cara berpakaian secara wajar ga dipermasalahkan asalkan masih sopan, seperti pakaian yang ga menampilkan aurat secara berlebihan seperti pakai hotpants, rok mini dan sebagainya.
Bagaimana jika kamu akan ke Aceh, yang pastinya hindari menggunakan pakaian terlalu ketat, hot pants dan baju UCanSee (sleeveless) kecuali di pantai. Itupun disarankan memakai baju yang berlengan dan celana pendek yang ga sependek seperti hotpants.
Dalam hal ini, Sabang merupakan satu-satunya daerah di Aceh yang lebih bebas secara budaya cara berpakaian karena merupakan daerah pariwisata dimana banyak turis domestik ataupun mancanegara yang berlibur di Sabang.
4. Tidak ada bioskop di seluruh Aceh termasuk Banda Aceh, sebagai ibukota provinsi Aceh.
FYI, Sebagai satu-satunya provinsi dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Sebenarnya pada saat dahulu, Banda Aceh mempunyai beberapa bioskop dengan nama Gajah Theatre dan Garuda Theatre yang merupakan bioskop dengan ukuran besar seperti bioskop pada umumnya disertai beberapa bioskop kecil lainnya.
Akan tetapi setelah Tsunami melanda pada Desember 2024, seluruh bioskop ini dinon-aktifkan dan dialihfungsikan menjadi hall. Kemungkinan juga merupakan dampak dari penetapan hukum syariat Islam yang mulai diterapkan secara formal dalam hukum pada 2002 dan diperkuat setelah tahun 2006.
Lalu apakah sampai sekarang Banda Aceh ga ada bioskop sama sekali? Yup, benar sekali. Bagaimana dengan masyarakat yang ingin menonton film bioskop? Nah biasanya setau saya, kebanyakan orang-orang akan ke Medan untuk menonton film tapi tentunya ketika sedang berlibur, kecuali kalau kamu banyak uang maka bisa ke Medan hari Sabtu pagi dan pulang Minggu malam. HAHAHA.
Btw, dengan rencana didirikannya TransMart Mall kemungkinan besar akan membawa bioskop dengan konsep syariah seperti yang diterapkan di Arab Saudi.
UPDATE Oktober 2025 : Proyek pembangunan Transmart Mall-nya mangkrak guys. Sampai sekarang ga ada progres sama sekali. Padahal bangunannya sudah setengah jadi 😂🤣😂
5. Kota Sabang adalah satu-satunya daerah di provinsi Aceh yang lebih ramah dalam hal berpakaian dan minuman.
Meski akhir-akhir ini, penerapan syariat Islam mulai diperketat kembali dengan bergantinya pemerintahan baru (gubernur dan walikota baru). Tapi khusus di Pulau Weh (Kota Sabang) kamu bisa bebas memakai pakaian sleeveless, hot pants dan bahkan masih ada kok turis domestik atau luar negeri yang memakai bikini di pantai.
Asalkan jangan dipakai di luar area pantai seperti nekad jalan-jalan ke wilayah kota dengan bikini ya guys. Bule pun sepertinya ga paJangan ya dek ya! Bahaya! Nanti yang nyetir ga fokus karena liatin kamu.
6. Wisata alam di Aceh nggak kalah dengan daerah lainnya.

Cakep ga lautnya? Biru banget kan? Pasirnya tentu putih bersih ya guys. Kalau kamu ada rencana liburan atau business trip ke Banda Aceh, kamu WAJIB ke pantai Lampuuk yang sangat populer, pasir putih dengan air laut yang jernih.
Dari pusat kota, anggap saja titiknya di Masjid Raya Baiturrahman, maka kamu hanya menempuh perjalanan sekitar 20-25 menit untuk sampai ke Pantai Lampuuk ini.
Cara bacanya : LAM-PU-UK
Minum air kelapa, makan Indomie telur dan pesan ikan bakar atau seafood tumpah ala-ala Louisiana style. Cumi udang kepitingnya tumpah-tumpah ga tuh? HEHE
7. Rendah polusi dan sampah
Karena merupakan daerah di ujung barat Indonesia yang ga banyak memiliki industri, bisa dikatakan kalau udara di Aceh sangat bersih dan Banda Aceh juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia lho.
Namun, pada penghargaan Adipura periode 2017-2018, nama Banda Aceh ga termasuk salah satu penerima penghargaan Adipura lagi. Pemerintah tentunya harus memperbaiki kualitas yang menurun tersebut agar meraih kembali penghargaan tersebut.
UPDATE Oktober 2025 : Banda Aceh telah memenangkan penghargaan ini sebanyak 11 kali, dengan kemenangan terakhir pada tahun 2022 dan 2023. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) karena Banda Aceh dinilai berhasil dalam pengelolaan kebersihan dan lingkungan perkotaan.
8. Masyarakat Non Muslim mempunyai rumah ibadah masing-masing
Masyarakat non-muslim di Aceh dapat beribadah secara bebas di rumah ibadah masing-masing. Di Banda Aceh sendiri ada 5 Vihara (dan kelenteng), 3 gereja Protestan dan 1 Gereja Katolik dan 1 Kuil Hindu India Tamil. Data ini sendiri berdasarkan data resmi dari Dinas Agama Provinsi Aceh.
Pendirian rumah ibadah di Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh ga terlalu sulit karena faktanya untuk mendirikan rumah ibadah baru rasanya lebih dipersulit terutama di kota-kota kecil di kabupaten selain di Banda Aceh.
Beberapa rumah ibadah non muslim di kota kecil di Aceh ga memiliki papan pamplet yang memberitahu kita bahwasanya bangunan tersebut adalah rumah ibadah.
Mengapa demikian? Tentunya saya sendiri juga kurang mengetahui hal tersebut hanya saja saya pernah mendengar alasan dari pengurus rumah ibadah setempat bahwasanya ga diizinkan menaruh identitas apapun agar ga kelihatan mencolok. Who knows? 😁
9. Populasi Tionghoa di Aceh adalah Orang Hakka
Orang Hakka adalah salah satu sub-suku Tionghoa Han yang memiliki populasi yang cukup dominan dibanding suku Tionghoa lainnya di Aceh. Oleh karena itu, mayoritas bahasa tionghoa yang digunakan di Aceh adalah bahasa Hakka, berbeda dengan bahasa yang kamu dengarkan di Medan, Pekanbaru dan daerah lainnya dengan dominasi masyarakat Tionghoa di Provinsi lain.
Selain di Aceh, orang Hakka (Khek) kebanyakan tersebar di Bangka Belitung, Pulau Kalimantan, Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTT, Timor Leste dan Papua.
Populasi terbesar Tionghoa di Aceh adalah Orang Hakka diikuti oleh orang Hokkien, Kanton, Hainan dan suku-suku sub-Tionghoa lainnya.
Bahasa Hakka digunakan sebagai lingua franca di antara sesama Tionghoa untuk berkomunikasi di samping pengunaan Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia.
10. Sebagian besar Tionghoa di Aceh bisa bahasa Aceh terutama generasi tuanya.
Orang Tionghoa di Aceh kebanyakan bisa bahasa Aceh karena Tionghoa disini sudah lama berada di daerah Aceh dari generasi ke generasi. Meskipun generasi mudanya yang sudah banyak yang ga bisa berbicara dalam bahasa Aceh tetapi generasi tua masih banyak yang bisa berbahasa Aceh dengan fasih.
11. Kepanjangan nama ACEH
Kata ACEH adalah singkatan dari Arab-China-Eropa-Hindia(India). Kemungkinan singkatan ini hanyalah backronym saja, yaitu bukan arti yang sesungguhnya karena hingga sekarang belum diketahui apa arti yang sebenarnya sejauh sumber yang pernah aku dapatkan. Akan tetapi nama Aceh sendiri sudah digunakan sejak zaman Kerajaan Aceh.
Backronym itu sebenarnya ga salah juga karena pada zaman kerajaan dimana banyak terjadi perdagangan antar bangsa dan saat zaman kolonial berlangsung, terjadi percampuran antarsuku/ras sehingga wajah orang Aceh sendiri sangat beragam. Nama-nama bangsa yang disebutkan di atas juga memang pernah berhubungan dengan masyarakat Aceh secara langsung pada zaman dahulu.
Baca juga:
Makanan dan Minuman Legendaris di Kota Banda Aceh
Ke Aceh Harus Berhijab Bagi Perempuan
Review Hotel Seventeen Banda Aceh
12. Titik Kilometer 0 (Kilometer Nol) Indonesia sedikit berbeda
Aceh sebagai provinsi paling ujung bagian barat Indonesia, dengan kota terluar yaitu kota Sabang yang berada di Pulau Weh. Titik Kilometer 0 (Kilometer Nol) di Sabang sebenarnya bukan terletak di tempat yang biasanya kita kunjungi.
Dari beberapa sumber yang aku pernah tau, katanya sebenarnya Titik Kilometer Nol yang asli ada di Pulau Rondo, yaitu pulau kecil tak berpenghuni di ujung Pulau Weh (Sabang) dan untuk menjangkau ke pulau tersebut sangatlah sulit dan cukup memakan waktu.
Biasanya Pulau Rondo hanya didatangi oleh para nelayan atau pemancing yang mencari ikan di sekitar sana.
13. Sebagai masyarakat Indonesia yang punya KTP Provinsi Aceh, pasti sering ditanya hal-hal seputar Ganja dan GAM kan?
Banyak masyarakat di luar Provinsi Aceh yang mengira bahwa ganja dapat diperoleh dengan mudah dan tersebar dimana-mana dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga tersebar dimana-mana dengan membuat teror di dalam masyarakat. Pasti banyak yang berpikiran seperti itu kan?
Dahulu memang GAM sangat ditakuti warga karena aksinya yang cukup brutal tetapi pada umumnya hanya terjadi di kota-kota kecil saja. Meskipun DOM (Daerah Operasi Militer) yang sempat diberlakukan oleh Pemerintah Pusat pernah mengusik ketentraman seluruh masyarakat di Provinsi Aceh.
Sejak penandatangan MoU antara GAM dan Pemerintah Indonesia, maka GAM secara resmi dibubarkan. Kalau pun ada kasus separatisme dan terorisme yang terjadi, itu hanyalah oknum-oknum tertentu saja. Semoga Aceh akan tentram, aman dan sejahtera sampai seterusnya. Amin 🙂
14. Tingkat kriminal yang rendah
Kamu lagi ada tugas kuliah, kerjaan kantor atau habis nongki di cafe bareng teman dan pulang malam di atas jam 10 malam bahkan jam 1 tengah malam ga akan menjadi masalah karena jarang terjadi aksi pembegalan di Banda Aceh.
Bukannya ga ada sama sekali, tapi persentasenya sangat kecil jika dibandingkan dengan kasus pembegalan di Sumatera Utara dan provinsi lainnya.
Sebagai orang Aceh, yang aku rasakan, pokoknya tinggal di Aceh itu aman banget guys, ga seperti yang di-framing oleh Media nasional tentang kehidupan di Aceh.
15. Tingkat konflik antar agama yang rendah
Bisa dibilang hampir nihil. Yang pernah aku ketahui, yaitu kejadian beberapa gereja yang dibakar di daerah Singkil. Selain dari kejadian itu, hanya konflik personal atau sentimen antar etnis dan bukan antar komunitas beragama.
Aku sangat percaya bahwa kerukunan beragama itu bukan hanya dilakukan oleh mayoritas tetapi oleh kedua belah pihak, baik minoritas dan mayoritas yang sama-sama menjaga dan saling memahami agar ga terjadi konflik agama.
Karena analoginya seperti ini, bila minoritas bersikukuh atau mayoritas yang terlalu memaksakan kehendaknya, apakah kedua komunitas ini dapat bersatu? Tentunya tidak!
Benar ga? Tentunya benar banget!
16. Tingkat konflik antar suku yang rendah
Bukannya ga ada, tapi rendah, sangat jarang dan sudah terjadi di waktu yang lalu.
Dulu juga kota-kota di Aceh pernah ada kerusuhan rasial seperti antara Orang Aceh dengan Orang Jawa, Orang Aceh dan Tionghoa (Cina).
17. Aceh nggak seseram seperti yang dipikirkan
Nongkrong di cafe atau di tempat umum bersama lawan jenis ga menjadi masalah.
Netizen : Tapi kok ada di berita kalau di Aceh nggak bolehin perempuan dan laki-laki yang bukan pasangan suami istri untuk duduk bersama atau berkendara bersama.
Iya, memang ada peraturan seperti ini, tapi hanya terjadi di Bireuen dan Aceh Utara, ga di seluruh Aceh. Dan sepertinya peraturan itu sudah ga diberlakukan. Seingat saya sih ya guys haha, soalnya juga ada peraturan yang sedikit absurd yang ga memperbolehkan wanita duduk ngangkang saat nyetir motor.
Ya kali disuruh nyetir duduk menyamping, keburu jatuh atuh HAHAHAHA.
18. Syariat Islam lebih diperketat
Pertama, semua bank konvensional harus diganti menjadi Bank Syariah sehingga sempat terjadi perbincangan di masyarakat tentang peraturan ini.
Kedua, ga ada perayaan Malam Tahun Baru di Aceh sejak tahun-tahun belakangan karena dianggap bukan budaya Islam sehingga ga perlu dirayakan.
Apalagi yang kamu tau tentang fakta unik di Aceh? Tambahkan di kolom komentar ya guys!
DISCLAIMER : Fakta-fakta di atas banyak merujuk pada kondisi kota Banda Aceh dan Aceh secara umum. Informasi di atas hanya digunakan sebagai media pertukaran informasi tentang keadaan di Aceh. Tidak ada unsur SARA yang disengajakan atau memprovokasi orang lain. Terima kasih. Selamat membaca!
Ayo ke Banda Aceh!
Baca juga :
Makanan dan Minuman Legendaris di Kota Banda Aceh
Ke Aceh Harus Berhijab Bagi Perempuan
Review Hotel Seventeen Banda Aceh
Jika kamu menyukai dan merasakan manfaat dari blog ini, kamu bisa mendukung blog ini untuk terus memberikan konten yang menarik dan unik melalui link di bawah ini :
https://sociabuzz.com/rickyismail/donate (GoPay, Ovo, Dana, LinkAja dan Transfer Bank)
For International readers, if you like and enjoy the benefits of this blog, you can support this blog to continue to provide interesting and unique content via this link : https://www.paypal.me/rickyismail
Terima kasih semuanya. Thank you a lot!




Leave a Reply